Showing posts with label Perawatan. Show all posts
Showing posts with label Perawatan. Show all posts

Tuesday, January 3, 2012

Hati-hati Kacer Masuk Angin dan Pilek

Musim hujan tidak bisa dianggap remeh, karena suhu udara bisa tiba-tiba berubah menjadi dingin serta kadang disertai dengan angin kencang.
Seperti halnya pada manusia pengaruh cuaca dingin dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, demikian juga pada burung kacer kesayangan kita. Secara kasat mata, biasanya burung akan terlihat diam dengan kondisi bulu agak mengembang, mata sayu dan kadang berair. Burung lebih banyak berdiam diri dan malas berkicau. Hal ini harus diperhatikan sebagai pertanda bahwa kemungkinan besar burung sedang masuk angin atau bisa saja terserang pilek.
Penyakit di musim hujan dengan gejalanya akan sangat berpengaruh pada performa burung. Gejala burung terkena masuk angin dan pilek dapat terlihat jelas apabila cenderung diam, bulu mengembang dan malas berkicau, dan nafsu makan berkurang dan semangat tempur menurun.
Hal seperti ini kadang bisa tidak kita perhatikan, sehingga penampilannya di lomba pun akan tidak semaksimal biasanya. Apabila dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan mental burung ngedrop dan yang paling fatal dapat menyebabkan kematian.
Pada musim hujan, dan cuaca yang cenderung memburuk, sebaiknya burung tidak dibiarkan berlama-lama di luar rumah, karena apabila hal tersebut dilakukan, maka daya tahan tubuh burung akan merosot dengan drastis.
Yang perlu diperhatikan adalah suplai extra foodingnya harus disesuaikan dengan kebutuhan si burung, dan tubuh burung tetap terjaga kehangatannya, Burung tetap diberikan perlindungan dengan kerodong sangkar. Jangan lupa bersihkan sangkar agar tidak lembab, kotor dan berbau. Karena ada musim hujan segala bentuk bibit penyakit akan dengan mudah tumbuh berkembang di dalam sangkar.
Apabila semua ini dilakukan, tentunya kita tetap dapat menikmati kicauan kacer kesayangan kita dengan kondiisi tubuh sehat dan tetap dapat tampil dengan optimal.

Salam kicau.

Thursday, January 8, 2009

Merawat & Melatih Burung Cendet



Merawat & MelatihCendet Setelah Ngurak

Cendet adalah burung sawah yang dapat menirukan suara burung jenis lain. Oleh karena itu Cendet mendapat julukan si burung sawah yang cerdas. Suara khasnya memang kurang enak bila di dengar, namun apabila ia sudah dimaster dengan suara burung lain maka suara yang dinyanyikannya akan semakin indah dan enak di dengar. Master yang baik untuk burung cendet ini adalah : cucak jenggot, love bird, cililin, belalang, burung gereja (sedang tarung), branjangan, ciblek, kenari dan jalak uret. Apabila cendet kesayangan Anda memiliki semua jenis suara burung master tersebut maka tinggal bagaimana melatih mentalnya saja agar tidak drop ketika berada di arena lomba atau kontes burung berkicau.

Menu utama pakan burung cendet adalah jangkrik. Disamping jangkrik extrafooding lainnya juga perlu diberikan semisal : kroto & ulat hongkong. Voer yang diberikan harus memiliki kandungan protein dan gizi yang baik. Merk tak jadi masalah boleh apa saja.

Ciri khas burung cendet adalah ekornya yang panjang dan akan meliuk-liuk jika sedang berbunyi. Sifat asli burung cendet adalah galak dan jika mematuk biasanya dia akan sekaligus menggigit dengan paruhnya yang tajam dan meninggalkan bekas gigitannya ditangan.
Namun apabila burung cendet ini kita pelihara sejak piyikan maka sifat galaknya akan sedikit hilang bahkan burung ini jika melihat tangan kita mendekat ia akan langsung turun seolah-oleh kita akan memberinya makan (jangkrik atau ulat).

Perawatan Cendet untuk sehari-hari ala penulis blog ini :

1. Jam 06.30 Burung dikeluarkan dari dalam rumah, kemudian buka krodong. Biarkan bunyi sampai jam 07.00. Kemudian baru dimandikan (disemprot).
2. Setelah dimandikan berikan jangkrik 10 ekor dan telor semut (kroto) secukupnya (1 sendok makan) itu sudah cukup, lalu dijemur hingga jam 12.00 siang. Setelah itu ambil kandang dan biarkan dulu dianginkan di teras rumah lebih kurang 15 menit. Kemudian tutup kandang dengan kerodong.
3. Jam 15.00 sore kandang burung kembali di buka kerodongnya dan langsung dijemur. Lantas burung dimandikan beri jangkrik 5 ekor dan kroto 1 sendok makan, langsung jemur. Proses penjemuran sampai jam 16.00 sore. Setelah itu burung di kerodong kembali dan tempatkan di dalam ruangan untuk istirahat.
4. Perawatan di atas dilakukan mulai dari hari Senin s.d. Kamis. Untuk hari Jum'at dan Sabtu menu jangkrik ditambah biasanya pagi : 10 ekor di tambah menjadi 15 ekor dan sore biasanya 5 ekor ditambah menjadi 7 ekor serta diberi ulat hongkong 3 ekor pagi dan 3 ekor sore hari.
5. Hari Minggu ketika burung akan di lombakan pemberian jangkrik dan kroto tetap hanya ditambah ulat hongkong 5 ekor menjelang lomba. Setelah lomba kaki cendet disemprot dan kembali di beri jangkrik 5 ekor. serta ulat hongkong 3 ekor.

Burung biasanya dilombakan 2 x dalam 1 bulan ini bertujuan agar stamina burung cendet tetap stabil. Bila stamina kurang baik akan dapat mempengaruhi mental dari burung cendet itu sendiri.

Merawat dan Melatih Cendet pasca ngurak harus lebih intensif lagi. Dikarenakan biasanya burung yang selesai ngurak staminanya masih lemah dan mentalnya sedikit ngedrop bila di hadapkan dengan burung sejenisnya. Burung cendet yang baru saja selesai mengalami proses ngurak harus lebih banyak asupan nutrisinya. Extra fooding seperti jangkrik diberikan sesuai / sama dengan takaran yang sama dengan sebelum ngurak begitu juga dengan yang lainnya. Burung-burung master usahakan selalu ditempel di dekat kandang cendet. Ini bertujuan agar suara isian tidak hilang.

Wednesday, January 7, 2009

Ciri-ciri BURUNG BAKALAN yang sehat

BURUNG BAKALAN


Beberapa rekan kadang bertanya tentang arti burung bakalan muda hutan dan bakalan muda biasa. Jika kita pergi ke kios atau pasar burung maka kita acap di tawarkan burung dengan sebutan atau istilah burung jadi, burung bakalan, burung bakalan muda hutan. Bagi pecinta burung yang sudah berpengalaman biasanya akan dengan mudah dapat membedakan antara burung jadi, muda hutan atau bakalan. Namun bagi pecinta burung pemula perlu kiranya diketahui perbedaan arti dari istilah-istilah tersebut.

Burung Jadi
Adalah burung yang sudah pandai dan rajin berkicau. Biasanya perawatan burung jadi sudah terpola seperti telah makan voer dan menunjukan tingkah laku yang jinak atau tidak terlalu liar. Memiliki perbendaharaan kicauan yang variatif dan bermental baik.
Catatan tambahan:
Untuk kasus khusus, ada "burung jadi" yang sedang dalam kondisi moulting/ganti bulu. Burung dalam kondisi seperti ini umumnya tidak mau bunyi atau kalau bunyi tidak sebagaimana kondisi ketika dia fit.
Tanda-tanda burung sedang moulting adalah banyak bulu kecil dan/atau besar yang rontok (proses ngurak/rontok bulu); atau sudah tidak ada yang rontok tetapi bulu belum tumbuh sempurna yang dicirikan dengan adanya (entah banyak atau sedikit) bulu-bulu yang masih terbungkus lapisan lilin/tanduk.
Burung pasca-moulting juga biasanya ada yang belum mau berkicau secara maksimal karena kondisi tubuhnya belum fit benar, seperti kegemukan, atau posisi batang bulu belum kuat. Jika "burung jadi" dalam kondisi seperti ini dipaksa untuk ditarungkan, akan menyebabkan bulu bisa rontok lagi.

Burung bakalan ’biasa’
Burung bakalan biasa dapat diartikan sebagai burung piyikan yang berasal dari hasil tangkaran atau burung yang berasal dari tangkapan alam namun berusia masih sangat muda (piyikan atau belum mengalami masa ganti bulu). Burung seperti inilah yang disebut burung trotol/trotolan.
Secara rata-rata kelebihan bakalan muda biasa adalah lebih mudah jinak dan mudah beradaptasi dengan pola rawatan dan kondisi lingkungan sekitar.

Burung bakalan Muda Hutan
Burung bakalan muda hutan adalah burung hasil tangkapan alam yang berusia lebih tua/remaja dan biasanya sudah mengalami masa moulting (ganti bulu). Bahkan terkadang kita dapati pedagang menawarkan pada kita burung yang sudah berumur tua dengan sebutan burung muda hutan.
Secara rata-rata kelebihan burung Muda Hutan adalah memiliki suara ’khas’. Biasanya burung muda hutan akan membawa ciri kondisi lingkungan sekitarnya saat burung tersebut ditangkap.
Untuk jalak suren terkenal dengan sebutan ’suara alas’ meski saat ini tidak dapat ditemukan lagi jalak suren jawa hasil tangkapan hutan/sawah karena sudah punah. Kalau ada jalak suren bersuara alasan, biasanya karena termaster oleh indukan (bapak/ibu atau kakek/neneknya) atau juga dimaster menggunakan suara jalak suren lewat kaset dsb. Beberapa pecinta burung murai batu mencari burung muda hutan yang memiliki suara khas, seperti suara pekikan elang atau siamang. Untuk burung mimikri (burung yang pandai menirukan suara burung lain) burung muda hutan dapat mengindikasikan asal dari burung tersebut. Burung berkicau muda hutan rata-rata memiliki suara yang kaya akan variasi (suara hutan) dan volume suaranya biasanya lebih keras. Hal ini dimungkinkan karena burung tangkapan muda hutan terbiasa terbang bebas yang membuat otot dadanya menjadi lebih terlatih semenjak usia kecil.
Kekurangan dari burung muda hutan adalah jika kita mendapatkan burung muda hutan yang bermental kurang baik. Jika kita mendapatkan burung dengan mental yang kurang baik, mengakibatkan burung tersebut terlihat sangat liar dan menabrak-nabrak sangkar, bahkan ada yang sama sekali tidak mau makan yang ujungnya dapat mengakibatkan kematian.

Ciri burung Bakalan yang berusia Muda
Penting untuk mengetahui ciri-ciri burung bahan, baik bakalan biasa atau bakalan muda hutan masih berusia muda, untuk menghindari praktek penipuan yang tidak kita inginkan. Umumnya burung bahan yang sudah berusia tua lebih sukar untuk dibentuk (dijinakan atau dimaster suaranya), Burung tangkapan yang sudah tua biasanya lebih mudah stress dan tampilannya liar serta kemampuan variasi kicauannya sulit untuk di kembangkan.

Ciri umum burung bakalan muda adalah sebagai berikut :

1. Kaki, Perhatikan Kakinya. Kaki burung bakalan yang relatif masih muda biasanya masih basah mulus dan belum bersisik serta bercorak bersih. Hanya saja, secara umum, tidak ada burung tangkapan hutan yang meskipun berusia tua kakinya bersisik.
2. Paruh, paruh burung bakalan yang relatif muda biasanya masih terlihat basah pada bagian pangkal mulutnya. Paruh burung muda biasanya terlihat tipis dan panjang serta berwarna lebih muda ketimbang yang berusia tua.
3. Burung bakalan yang berumur muda biasanya tidak seliar burung tangkapan yang sudah dewasa.
4. Kuku, burung yang telah memiliki kuku kaki yang panjang biasanya sudah berumur tua. Dalam kasus tertentu, ada juga burung hasil tangkaran meski masih usia muda tetapi kukunya relatif cepat panjang. Hal ini memerlukan terapi tersendiri.


Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam membeli burung bakalan :
1. Jantan

Pastikan burung bakalan yang kita pilih adalah berkelamin jantan jika untuk kicauan. Kecuali untuk burung yang diketahui walaupun berkelamin betina namun tetap memiliki kicauan yang baik seperti burung cucak rawa, love bird dan lainnya. Kalau untuk tujuan penangkaran, pastikan mendapatkan jantan atau betina yang sehat.

2. Berpenampilan sehat

Pengertian sehat dapat dicirikan dengan gerakan burung relatif tenang dan stabil, bergerak tidak berlebihan. Burung yang bergerak secara berlebihan dapat menandakan burung tersebut sedang stress atau sebaliknya burung terlihat lemas yang dapat menandakan burung tersebut sedang dalam kondisi tidak sehat. Burung bakalan yang tidak sehat juga dapat dilihat dari warna bulu yang terlihat kusam dan kondisi bulu yang mengembang. Burung bakalan yang tampak sayapnya turun ke bawah dan bulu kepada berdiri dan leher di pendekan seperti dalam kondisi kedinginan serta mata yang sering terlihat seperti mengantuk, maka dapat dipastikan burung tersebut dalam kondisi sakit. Burung dalam kondisi seperti ini sebaiknya tidak dibeli. Sinar mata burung yang sehat biasanya terlihat jernih dan tajam serta bulunya sempurna dan berkilau.

3. Burung Tidak Cacat

Pilihlah burung yang anggota tubuhnya dalam kondisi baik, tidak buntung pada jari jemarinya, mata yang sehat, tidak terkena penyakit katarak atau buta, saya terlihat kokoh dan paruh utuh.
Penampilan fisik tubuh kicauan yang sempurna akan menambah daya tarik bagi pemeliharanya, lebih jauh jika burung tersebut dilombakan akan membawa kebanggan bagi pemiliknya. Cacat tubuh pada burung dapat dikarenakan beberapa hal, seperti terjerat jala saat penangkapan atau burung kurang baik pada saat distribusi ke kios/pedagang atau juga dapat karena burung terlampau liar sehingga menabrak atau tersangkut pada jeruji sangkar.

4. Bentuk Fisik yang mempunyai ciri khusus dan proporsional

Masing masing jenis burung mempunyai ciri khusus untuk menunjukan bahwa burung tersebut adalah burung bakalan yang baik. Namun secara umum ciri fisik burung bakalan yang baik adalah sebagai berikut :

* memiliki dada yang bidang
* mata yang jernih dan tajam
* kaki yang kokoh serta cengkraman yang kuat
* body yang lencir (besar dan panjang namun terlihat gagah)
* bulu yang mengkilat
* Paruh, pilihlah yang posisinya proporsional.
* pada burung tertentu seperti murai batu, pilihlah burung dengan kepala papak yang biasanya mengidisikan mental yang baik.
* pilihlah burung yang memiliki lubang hidung yang kecil, menurut pengalaman penulis, burung yang memiliki lubang hidung yang kecil biasanya akan berkicau panjang dan kristal.


Catatan khusus: Untuk trend penghobi saat ini, misalnya penghobi Anis Merah (AM), pemilihan fisik AM jantan justru tidak mengikuti "pakem" tersebut. Sebab, telah berkembang pola penilaian AM yang lebih memberi poin penting untuk gaya teler. Gaya teler aneh (mbebek, doyong dsb) biasanya dihasilkan oleh AM yang berpenampilan fisik tidak proporsional. Misalnya, leher pendek, cara berdiri ndlosor tidak tegak, kepala terlihat pipih, kaki tidak membentuk huruf I kembar tetapi membentuk huruf X dan sebagainya.
AM-AM dengan penampilan gagah, panjang/lencir, cenderung bergaya teler nekuk leher secara ketat (klasik).

5. Rajin Ngeriwik (berkicau)

Akan lebih baik jika kita dapati burung bakalan yang kita beli telah rajin ngeriwik (berkicau secara perlahan) rajin untuk belajar berkicau atau bahkan mau berkicau. Sukur-sukur kita mendapatkan burung dengan volume diatas rata-rata yang dapat menjadi modal jika nantinya kita berniat untuk mengikutsertakan burung tersebut ke pentas lomba. Untuk burung piyik, pilihlah burung yang jika diberi makanan dia akan merengek lebih keras dan terlihat mendominasi burung lainnya.

Indraf & Duto SC