Showing posts with label Burung Langka. Show all posts
Showing posts with label Burung Langka. Show all posts

Thursday, March 22, 2012

Elang-Rawa Katak ( Circus aeruginosus )

Berukuran sedang (50 cm) berwarna gelap.Jantan: seperti Elang-rawa Timur jantan yang hampir dewasa, tetapi kepala lebih kuning tua dan kurang coretan gelap. Betina dan remaja: mirip Elang-rawa Timur, tetapi warna coklat pada punggung lebih gelap, ekor tidak bergaris-garis, dan mahkota tanpa garis tebal gelap. Bercak putih (jika ada) di bawah bulu primer, tanpa bintik-bintik gelap.Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, tarsus telanjang, kaki abu-abu.

Suara :
Biasanya diam.

Penyebaran global :
Berbiak di Palearktik barat dan tengah sampai Cina barat. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan sampai Afrika, India, dan Semenanjung Malaysia.

Penyebaran lokal :
Satu ekor pernah di koleksi di Sumatra Utara. Jumlah relatif dari kedua jenis Elang-rawa tersebut tidak diketahui di Sunda Besar, besar kemungkinan keduanya masih dapat ditemukan.

Kebiasaan :
Terbang rendah diatas vegetasi rawa, mengejutkan mangsa dengan menukik cepat menyerang mangsa. Mendiami habitat hutan rawa dan hutan lahan basah lain (danau, bendungan, sungai) yang luas dan bervegetasi rapat. Juga hidup di daerah terbuka dan padang rumput yang dekat dengan daerah perairan, di Asia masih dapat ditemukan sampai ketinggian 2000 m.

Makanan:
Oportunis yang cerdik dengan variasi makanan yang luas, tergantung ketersedian pakan di habitatnya. Memakan telur, anakan, dan burung dewasa yang berukuran kecil-sedang, biasanya burung perairan, seperti: belibis, burung pantai, mandar. Makanan lainnya tikus dan kelinci. Juga memangsa burung besar yang terluka (seperti: bebek, angsa)

Monday, March 19, 2012

Elang-Ikan Kecil ( Ichthyophaga humilis )

lesser fish-eagle (Ichthyophaga humilis) at Dusit Zoo
Berukuran sedang (60 cm) berbulu kecoklatan. Kepala, leher dan dada abu-abu, perut putih. Dibandingkan Elang-ikan Kepala-kelabu: ukurannya lebih kecil dan ekor gelap. Remaja: warna coklatnya lebih pucat dan tubuh bagian bawah kuning tua polos. Iris kuning atau coklat, paruh abu-abu gelap, kaki abu-abu.

Suara :
Kadang-kadang bersuara meratap dalam seri “haak-haak-....”.

Penyebaran global :
Himalaya, Asia Tengara, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi.

Penyebaran lokal dan status :
Di Sumatra dan Kalimantan tidak umum dijumpai di sungai-sungai dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1000 m.
Kebiasaan :
Ditemukan di hutan-hutan pinggir sungai dan hutan rawa sampai ketinggian 1000 m, menangkap ikan dari dekat permukaan air.

Makanan:
Makanan utamanya adalah ikan. Bergerak cepat dari tenggeran yang dekat dengan aliran air ke permukaan air untuk menangkap ikan. Menghabiskan waktu dengan berpindah-pindah tempat bertengger di pinggir sungai atau danau dan hanya sesekali soaring.

Perkembangbiakan:
Sarang berukuran besar di pohon yang tinggi dekat dengan aliran sungai. Jumlah telur 2-4 butir, informasi mengenai masa pengeraman dan anakan tumbuh dewasa belum tersedia.Berukuran sedang (60 cm) berbulu kecoklatan. Kepala, leher dan dada abu-abu, perut putih. Dibandingkan Elang-ikan Kepala-kelabu: ukurannya lebih kecil dan ekor gelap. Remaja: warna coklatnya lebih pucat dan tubuh bagian bawah kuning tua polos.

Iris kuning atau coklat, paruh abu-abu gelap, kaki abu-abu.

Suara :
Kadang-kadang bersuara meratap dalam seri “haak-haak-....”.

Penyebaran global :
Himalaya, Asia Tengara, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi.

Penyebaran lokal dan status :
Di Sumatra dan Kalimantan tidak umum dijumpai di sungai-sungai dataran rendah dan perbukitan sampai ketinggian 1000 m.

Kebiasaan :
Ditemukan di hutan-hutan pinggir sungai dan hutan rawa sampai ketinggian 1000 m, menangkap ikan dari dekat permukaan air.

Makanan:
Makanan utamanya adalah ikan. Bergerak cepat dari tenggeran yang dekat dengan aliran air ke permukaan air untuk menangkap ikan. Menghabiskan waktu dengan berpindah-pindah tempat bertengger di pinggir sungai atau danau dan hanya sesekali soaring.

Perkembangbiakan:
Sarang berukuran besar di pohon yang tinggi dekat dengan aliran sungai. Jumlah telur 2-4 butir, informasi mengenai masa pengeraman dan anakan tumbuh dewasa belum tersedia.

Friday, March 16, 2012

Elang-Rawa Katak ( circus aeruginosus )


Berukuran sedang (50 cm) berwarna gelap.Jantan: seperti Elang-rawa Timur jantan yang hampir dewasa, 
tetapi kepala lebih kuning tua dan kurang coretan gelap. Betina dan remaja: mirip Elang-rawa Timur, tetapi warna coklat pada punggung lebih gelap, ekor tidak bergaris-garis, dan mahkota tanpa garis tebal gelap. Bercak putih (jika ada) di bawah bulu primer, tanpa bintik-bintik gelap. Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, tarsus telanjang, kaki abu-abu.

Suara :
Biasanya diam.

Penyebaran global :
Berbiak di Palearktik barat dan tengah sampai Cina barat. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan sampai Af
rika, India, dan Semenanjung Malaysia.



Penyebaran lokal :
Satu ekor pernah di koleksi di Sumatra Utara. Jumlah relatif dari kedua jenis Elang-rawa tersebut tidak diketahui di Sunda Besar, besar kemungkinan keduanya masih dapat ditemukan.

Kebiasaan :
Terbang rendah diatas vegetasi rawa, mengejutkan mangsa dengan menukik cepat menyerang mangsa. Mendiami habitat hutan rawa dan hutan lahan basah lain (danau, bendungan, sungai) yang luas dan bervegetasi rapat. Juga hidup di daerah terbuka dan padang rumput yang dekat dengan daerah perairan, di Asia masih dapat ditemukan sampai ketinggian 2000 m.

Makanan:
Oportunis yang cerdik dengan variasi makanan yang luas, tergantung ketersedian pakan di habitatnya. Memakan telur, anakan, dan burung dewasa yang berukuran kecil-sedang, biasanya burung perairan, seperti: belibis, burung pantai, mandar. Makanan lainnya tikus dan kelinci. Juga memangsa burung besar yang terluka (seperti: bebek, angsa)

Thursday, March 15, 2012

Elang Buteo ( buteo buteo )


Berukuran besar (55 cm). Tubuh bagian atas coklat kemerahan gelap ; sisi muka kuningtua, bercoret kemerahan dengan garis kumis coklat berangan yang terlihat jelas. Tubuh bagian bawah keputih-putihan dengan coretan tebal kemerahan. Iris kuning sampai coklat, paruh abu-abu dengan ujung hitam, sera dan kaki kuning. Terbang ; sayap bulat lebar bercak putih pada bagian pangkal bulu-bulu primer terlihat jelas;membubung tinggi membentuk huruf “V”


Suara :
Seperti rintihan “piiyu” mengeong keras.

Penyebaran global:
Berbiak di Paleartik, pada musim dingin menyebar ke selatan sampai Afrika, India, dan Asia tenggara.

Penyebaran lokal:
Hanya sedikit catatan di Jawa dan Bali. Diperkirakan sebagai pengembara atau pengunjung musim dingin di Sumatera.

Kebiasaan:
Menyukai daerah pedesaan yang terbuka, terbang tinggi berputar-putar mengikuti udara panas, atau beristirahat pada cabang-cabang pohon yang mencolok. Salah satu elang yang secara teratur melayang-layang diam sambil mengepak-epakan sayapnya. Terbang soaring di daerah terbuka di dekat hutan untuk mencari mangsa. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan bertengger di pohon terbuka, melihat sekeliling untuk menentukan lokasi mangsa. Sebagian besar mangsa ditangkap di atas tanah.

Makanan:
Jenis pakan menyesuaikan kondisi lingkungan dan musim. Makanan utamanya tikus, hamster, dan kelinci. Juga memakan serangga, reptil, amfibi, burung, dan sesekali bangkai hewan.

Perkembangbiakan:
Mulai mengerami telur Maret-Mei. Sarang biasanya dibuat pada pohon yang besar di dekat tepian hutan. Setiap pasangan memiliki lebih dari satu sarang, kadang menggunakan sarang dari burung raptor lain. Umumnya telur 2-4 butir yang dierami selama 35-39 hari, terutama oleh betina, sedangkan jantan lebih banyak bertugas mencari makan. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang usia 50-60 hari. Burung tertua yang pernah tercatat berusia lebih dari 25 tahun.

Elang Kelabu ( Butastur indicus )


Berukuran sedang (45 cm). Berwarna kecoklatan dengan dagu putih yang mencolok, disertai garis hitam di tengah kerongkongan dan kumis hitam. Bagian sisi kepala kehitaman, dimana bagian atasnya bercoret dan bergaris kehitaman. Dada coklat bercoret hitam, sedangkan tubuh bagian bawah lain bergaris-garis coklat kemerahan. Terdapat garis tebal dan lebar pada ekor. Iris kuning, paruh abu-abu, sera dan kakikuning.

Suara :
Getaran “cit-kwii” dengan nada kedua meninggi.

Penyebaran global :
Berbiak di Asia timur laut. Pada musim dingin ke se;atan sampai Asia Tenggara, Filipina, dan Indonesia.

Penyebaran lokal :
Pengunjung musim dingin atau pengembara sampai Sunda Besar. Tidak jarang di Kalimantan bagian utara dan Sumatra, tetapi jarang sampai Jawa. Di Papua dapat dijumpai di Kelompok pulau Papua Barat

Kebiasaan :
Mendiami daerah berhutan sampai ketinggian 1500 m. Terbang agak pelan dan susah payah. Suka berburu dari tempat bertengger di pohon, biasanya di percabangan tertinggi pohon yang mati. Menunggu kemunculan mangsa, kemudian menukik tajam untuk menangkapnya. Biasanya mencari makan di pagi dan sore hari.

Makanan:
Terutama memakan katak, ular, kadal, tikus, dan terkadang burung.

Perkembangbiakan:
Mulai mengerami telur bulan Mei. Sarang berukuran kecil yang biasanya ditempatkan pada pohon berduri jarum (misal: pinus), 4-14 m di atas permukaan tanah.telur 2-4 butir yang dierami selama 28-30 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarangumur 34-36 hari.

Wednesday, March 14, 2012

Elang Bonelli( hieraaetus fasciatus )

Bonelli's Eagle Hieraaetus fasciatus
Berukuran sedang (65-72 cm). Tubuh bagian bawah coklat gelap bergaris-garis putih. Mantel abu-abu pucat, ekor abu-abu dengan ujung gelap. Betina berukuran lebih besar, garis-garis pada tubuh bagian bawah lebih lebat. Burung muda berwarna colat gelap, tubuh bagian bawah dan penutup sayap coklat-kemerahan. Bercak putih pada punggung dan ekor lebih sedikit.

Suara :
Nada “kii-kii-kii” yang tinggi ketika musim berbiak.

Penyebaran global :
Afrika, Timur Tengah, Asia Selatan, Cina, Asia Tenggara, Nusa Tenggara, Timor Leste.



Penyebaran lokal :
Nusa Tenggara. Menyukai daerah tropis yang hangat, hidup di padang rumput yang luas, daerah pertanian, dan lahan basah sampai ketinggian 2000 m.

Kebiasaan :
Mendiami hutan di dekat perairan atau di dekat lokasi pakan. Biasanya berburu sendirian atau berpasangan. Sebagian besar mangsa ditangkap di permukaan tanah, sesekali mengejar burung yang terbang.

Makanan:
Burung berukuran sedang: merpati, camar, gagak, kuntul, bangau; mamalia: kelinci, tikus, tupai; reptil: kadal.




Perkembangbiakan:
Sarang berbentuk kantung dari rumput yang tergantung pada dahan yang rendah dan terjalin dengan kapas alang-alang. Telur 2 butir berwarna keputihan berbintik abu-abu putih. Berbiak sepanjang tahun

Tuesday, March 13, 2012

Rajawali Ekor-Baji ( Aquila audax )

Berukuran sangat besar (80-100 cm). Rajawali yang sangat besar, berwarna gelap dengan ekor baji yang mencolok.ketika terbang, ujung sayap diangkat ke atas. Pangkal bulu-buku terbang burung remaja berbercak putih.

Suara :
“peer-yu” lemah

Penyebaran global :
Papua dan Australia.

Penyebaran lokal :
Di Papua hanya ada di dataran rendah Trans-Fly.


Kebiasaan :
Mencari makan di atas savana, menangkap Walabi (sejenis kanguru) dan mendatangi bangkai. Sering terbang melambung sampai tinggi.

Makanan:
Mamalia: kanguru, walabi, kambing, kucing, anjing; burung: gagak, kakatua, merak, bangau; reptil: bunglon raksasa, biawak, ular; dan bangkai hewan.



Perkembangbiakan:
Musim berbiak Agustus-September, atau Januari-Februari untuk Australia bagian utara. Sarang biasanya berada pada pohon tertinggi, berukuran besar, dan tersusun atas batang pohon yang dijaling dengan dedaunan. Jumlah telur 1-3 (biasanya 2) yang dierami selama 42-48 hari. Anakan belajar terbang dan meninggalkan sarang usia 79-95 hari. Burung muda mulai masak kawin setelah berumur 3 tahun.

Sunday, March 11, 2012

Elang-Ular Jari-Pendek ( Circaetus gallicus

Berukuran besar (65 cm) berwarna pucat. Tubuh kekar, bagian atas coklat keabu-abuan, bagian bawah putih dengan coretan gelap, tenggorokan dan dada coklat. Terdapat garis-garis melintang yang samar pada perut dan empat garis melintang yang samar pada ekor.


Remaja berwarna lebih pucat dari dewasa. Pada waktu terbang, sayap terlihat lebar dan panjang, dengan garis panjang mencolok pada penutup sayap dan bulu terbang. Iris kuning, paruh hitam dengan sera abu-abu, kaki kehijauan.

Suara :
Biasanya diam pada musim dingin, kadang-kadang mengeong meratap.

Penyebaran global :
Afrika, Erasia, India, Cina utara, Jawa dan Nusa Tenggara.

Penyebaran lokal :
Tercatat di Jawa Timur (biasanya di T.N. Baluran) dan Bali. Asalnya tidak diketahui dengan pasti, mungkin pengembara dari populasi penetap di Nusa Tenggara. Migran dari daratan Asia dapat mencapai Sunda Besar dan Nusa Tenggara secara teratur.



Kebiasaan :
Menghuni pinggir hutan dan semak sekunder. Terbang melingkar dan meluncur dengan sayap yang cibentangkan lurus dan datar. Seperti alap-alap raksasa, sering melayang-layang diam sambil mengepakkan sayapnya.

Makanan:
Verteberata kecil, terutama ular. Juga memakan reptil seperti kadal, bunglon, tekek, belut dan biawak. Terkadang memakan burung, amfibi dan mamalia kecil antara lain tikus, kelinci, tupai..



Perkembangbiakan:
Sarang di percabangan pohon yang tidak terlalu tinggi, berukuran kecil, dan tersusun dari batang dan cabang pohon yang di jalin dengan daun dan rerumputan. Membangun sarang baru setiap tahun, meskipun masih merawat sarang yang lama. Telur 1 butir yang dierami 45-57 hari, terutama oleh betina. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 60-80 hari. Burung tertua yang pernah tercatat berusia 17 tahun.

Saturday, March 10, 2012

Elang-Ikan Kepala Abu ( ichthyophaga ichthyaetus )

Berukuran besar (70 cm) berwarna abu-abu, coklat, dan putih.Dewasa: kepala dan leher abu-abu, dada coklat; sayap dan punggung coklat gelap; perut, paha, dan pangkal ekor putih; ujung ekor bergaris lebar hitam. Remaja: bagian atas coklat kekuningan, bagian bawah bercoret coklat dan putih; ekor coklat mengkilap dengan ujung bergaris hitam . Iris coklat sampai kuning, paruh dan sera abu-abu, tungkai tanpa bulu, dan kaki putih sampai kuning.

Suara :
Teriakan nyaring sengau “awh-awhrr” dalam seri yang khas.



Penyebaran global :
India, Asia Tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda Besar.

Penyebaran lokal :
Tidak umum, tetapi penyebarannya luas di sepanjang sungai di Sumatra dan Kalimantan. Sekarang jarang ditemukan di Jawa Barat. Pernah ditemukan di Jawa Timur, tetapi tidak ada catatan terbaru.

Kebiasaan :
Sering mengunjungi daerah perairan, sungai danau, dan paya di hutan dataran rendah. Menukik menerkam ikan ketika terbang atau dari posisi bertengger di pohon. Jarang terbang melayang-layang.

 

Makanan:
Ikan


 

Perkembangbiakan:
Membuat sarang yang sangat besar dari tangkai dan ranting. Menggunakan sarang yang sama sepanjang tahun. Telur 1-2 berwarna putih kotor.

Friday, March 9, 2012

Elang-Ular Bido ( Spilornis cheela / Crested Serpent Eagle )



Berukuran sedang (50 cm), berwarna gelap. Sayap sangat lebar membulat, ekor pendek. Dewasa: tubuh bagian atas coklat abu-abu gelap, tubuh bagian bawah coklat. Perut, sisi tubuh, dan lambungnya berbintik-bintik putih, terdapat garis abu-abu lebar di tengah garis-garis hitam pada ekor.


Jambulnya pendek dan lebar, berwarna hitam dan putih. Ciri khasnya adalah kulit kuning tanpa bulu di antara mata dan paruh. Pada waktu terbang, terlihat garis putih lebar pada ekor dan garis putih pad pinggir belakang sayap. Ras Kalimantan berwarna lebih pucat dan coklat. Remaja: mirip dewasa, tetapi lebih coklat dan lebih banyak warna putih pada bulu. Iris kuning, paruh coklat-abu-abu, kaki kuning.

Suara:
Sangat ribut, melayang-layang di atas hutan, mengeluarkan syara nyaring dan lengking “kiu-liu”, “kwiiik-kwi”, atau “ke-liik-liik” yang khas, dengan tekanan pad dua nada terakhir, dan “kokokoko” yang lembut.
   

Penyebaran global:
India, Cina selatan, Asia tenggara, Palawan, dan Sunda Besar.

 

Penyebaran lokal:
Terdapat di seluruh Sunda Besar dan mungkin merupakan elang yang paling umum di daerah berhutan sampai pada ketinggian 1.900 m.

  

Kebiasaan:
Sering terlihat terbang melingkar di atas hutan dan perkebunan, antar psangan sering saling memanggil. Pada saat bercumbu, pasangan memperlihatkan gerakan aerobatik yang menakjubkan walaupun biasanya tidak terlalu gesit. Sering bertengger pada dahan yang besar di hutan yang teduh sambil mengamati permukaan tanah di bawahnya.

Makanan:
Ular, kadal, katak, verteberata, dan terkadang mamalia kecil.


 

Perkembangbiakan:
Sarang di hutan yang rapat tersusun dari ranting berlapis dedaunan. Telur 1-2 berwarna putih suram dengan bercak kemerahan. Berbiak setiap waktu sepanjang tahun.

Elang-Alap Meyer ( Accipiter meyerianus )

Berukuran besar (53 cm). Fase normal: tubuh bagian atas kehitaman, tubuh bagian bawah keputih-putihan. Sedangkan pada fase hitam, seluruh tubuh berwarna hitam. Dalam semua fase bulu, iris tetap berwarna hitam. Remaja: tubuh bagian atas coklat tua kusam dengan sisi bulu tipis.

Suara :
Nada sengau keras meninggi lebih cepat dan tanpa kekuatan nada menyambung naik seperti pada Elang-alap Bahu-coklat.

Penyebaran global :
Maluku, Papua, Kep. New Britain, Kep. Solomon.

Penyebaran lokal :
Di seluruh Papua sampai pada ketinggian 1600 m.

Kebiasaan :
Elang-alap di hutan perbukitan yang kurang dikenal, biasanya terbang rendah di atas kanopi dan sesekali melambung tinggi. Bertengger di dahan pohon yang memungkinkan untuk melihat daerah sekitar. Terbang di sepanjang puncak perbukitan atau di lembah-lembah gunung pada pagi hari, menyerang sekumpulan merpati yang hendak mencari makan.

Makanan:
Berbagai jenis burung, termasuk ayam kampung.

Perkembangbiakan:
Musim berbiak sepanjang musim dingin sampai awal musim panas di Australia. Sarang biasanya diletakkan pada pohon yang tinggi. Pernah tercatat sarang dengan 3 telur.

Elang-Alap Shikra ( accipiter badius )

Berukuran sedang (32 cm) berwarna pucat. Jantan: tubuh bagian atas abu-abu pucat dengan bulu primer hitam kontras, tenggorokan putih dengan strip abu-abu samar di tengah tenggorokan; dada dan perut bergaris merah karat dan putih sempit melintang. Betina: seperti jantan, tetapi punggung coklat dan tenggorokan abu-abu. Remaja: coklat abu-abu bersisik merah karat, tubuh bagian bawah bergaris coklat, ada strip hitam di tengah tenggorokan. umumnya sukar sekali dibedakan dengan remaja accipiter lain di lapangan. Iris kuning sampai coklat, paruh coklat, dan kaki kuning.

Suara :
Biasanya diam, siulan “kyiuw” di daerah berbiak.


Penyebaran global :
India, Cina selatan, dan Asia Tenggara.


Penyebaran lokal :
Pengunjung musim dingin yang tidak umum di dataran rendah Sumatra, hanya sedikit catatannya, kemungkinan jarang dikenali.



Kebiasaan :
Berburu dari tenggeran pohon di pinggir hutan, daerah hutan terbuka, dan areal pertanian. Mengejar burung, kadang-kadang terbang melingkar tinggi di angkasa.

Makanan:
Terutama kadal dan burung-burung kecil. Juga memakan telur dan anakan burung, kelelawar, tikus, katak, serangga, dan sesekali bangkai hewan.



Perkembangbiakan:
Mulai membuat sarang dan mengerami telur biasanya pada penghujung musim kemarau. Telur 1-5 (biasanya 3-4) butir dan dierami selama 30 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 32 hari.


Thursday, March 8, 2012

Elang-Ular Kinabalu ( Spilornis kinabaluensis / Mountain Serpent Eagle )

Berukuran sedang (55 cm). Berwarna gelap dengan jambul pendek lebat dan garis pucat pada ekor. Perbedaan dengan Elang-ular Bido: sayap lebih panjang, warna lebih gelap, bintik-bintik lebih kecil, gari tengkuk coklat amber terang, tenggorokan hitam, garis ekor lebih panjang.
Iris kuning sitrun, paruh putih krem dengan sera kuning, kaki kuning.


Suara :
Khas dan jelas berbeda dengan Elang-ular Bido. Terdiri dari satu seri nada yang pendek, diakhiri nada panjang yang mendapat tekanan.

Penyebaran global :
Endemik di Kalimantan.


 

Penyebaran lokal :
Terbatas di G. Kinabalu, G. Murud, dan G. Mulu di Kalimantan bagian utara. Kadang terdapat di G. Kinabalu pada ketinggian diatas 1000 m.

Kebiasaan :
Mirip Elang-ular Bido, lebih menyukai hutan pegunungan.

 

Makanan:
Terutama ular dan kadal.

Perkembangbiakan:
Informasi belum tersedia

Elang-Alap Besra ( Accipiter virgatus )


Berukuran sedang (33 cm) mirip Elang Alap Jambul tetapi lebih kecil dan tanpa jambul. Warna jantan dewasa, tubuh bagian atas abu-abu gelap dengan ekor bergaris tebal, tubuh bagian bawah putih dengan garis melintang coklat dan sisi tubuh merah karat, tenggorakan putih dengan strip hitam ditengah, strip kumis hitam.

Suara:
burung muda “syiuw-syiuw-syiuw” berulang-ulang jika lapar. Waktu berbiak “kwi-kikiki”.

Persebaran Global:
India, Cina selatan, Asia Tenggara, Filipina, dan Sunda Besar.

Persebaran Lokal:Penetap di Sumatra, Kalimantan bagian utara, Jawa, dan Bali. Tersebar luas dihutan pegunungan dan perbukitan antara ketinggian 300-1200 mdpl (sampai ketinggian 3000 mdpl di G.Kerinci)

Kebiasaan:
Duduk tenang di hutan menunggu mangsanya. Sering terlihat bertengger di pohon mati yang tinggi di hutan. Terbang mengitari teretori secara reguler.

Makanan:
Kadal, burung kecil dan serangga.

Perkembangbiakan:
Sarang di pohon yang tinggi di hutan berupa tumpukan ranting yang tidak rapi. Telur 2-4 berwarna putih kebiruan pucat bertanda coklat kemerahan. Di Jawa Barat berbiak dari Maret-Mei.

Wednesday, March 7, 2012

Elang Rawa Tangling ( Circus melanoleucos / Pied Harrier )

Berukuran agak kecil (42 cm) sayap ramping. Jantan: bulu utama hitam, putih, dan abu-abu; kepala, tenggorokan, dan dada hitam polos. Betina: bagian atas coklat bercoret tersapu abu-abu, tunggir putih, ekor bergaris-garis, tubuh bagian bawah kuning tua bercoretan merah kasar.


Bagian bawah sayap terbang bergaris-garis kehitaman. Remaja: tubuh bagian atas coklat gelap dengan garis pita putih di atas penutup ekor atas, tubuh bagian bawah coklat berangan bercoretan kuning tua merah karat.
Iris coklat pucat, paruh warna tanduk, kaki kuning.

Suara:
Biasanya diam.

Penyebaran global:
Berbiak di Asia bagian timur laut. Bermigrasi ke Asia Tenggara, Filipina, dan Kalimantan bagian utara pada musim dingin.

Penyebaran lokal:
Di beberapa tempat biasa ditemukan sebagai pengunjung pada musim dingin di Kalimantan bagian utara ke arah selatan dataran tinggi Kelabit, dan kadang mencapai bagian lain dari pulau Kalimantan dan Sumatra.





Kebiasaan:
Burung yang penyendiri, sesekali bergabung dengan jenis Elang-rawa lain. Aktif memperlihatkan kemampuan terbang di udara pada awal-awal masa siklus bersarang. Meluncur rendah di atas daerah terbuka, rawa, padang gelagah, dan sawah.

Makanan:
Tikus dan mamalia kecil lainnya, katak, kadal, dan serangga seperti belalang dan kumbang. Juga memakan telur, anakan, dan burung dewasa. Jenis burung yang dimakan antara lain bondol dan pipit. Jenis makanan lainnya: ular, ikan, dan sesekali bangkai hewan.

 

Perkembangbiakan:
Musim berbiak pertengahan Mei sampai Agustus. Sarang berbentuk datar tersusun atas rumput, tifa, dan bagian tumbuhan lain yang ada di sekitar sarang, yang biasanya berada di lahan basah. Telur 3-6 (biasanya 4-5) yang dierami selama 30 hari. Mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang setelah berumur 1 bulan. 

Tuesday, March 6, 2012

Elang Setiwel ( hieraaetus pennatus )

Rajawali berukuran kecil (50 cm), dengan dada coklat kemerahan saat fase gelap, atau putih agak kuning tua saat fase terang. Tidak berjambul, kaki berbulu. Dagu, pipi, dan bulu penutup ekor bawah kuning tua sampai coklat.
Tubuh bagian atas coklat berbintik-bintik hitam dan kuning tua, sayap dan ekor coklat lebih gelap. Pada waktu terbang, bulu-bulu primer yang berwarna gelap terlihat sangat kontras dengan bagian bawah bulu penutup sayap yang kuning tua (fase terang) dan coklat kemerahan (fase gelap). Bulu penutup ekor berwarna pucat.
Iris coklat, paruh kehitaman, sera dan kaki kuning.

Suara :
Lemah, tinggi “kiii”

Penyebaran global :
Berbiak di Afrika, Erasia brat daya, India barat laut, dan Cina utara. Pada musim dingin bermigrasi ke selatan sampai ke Afrika, India, dan Semenanjung Malaysia.

Penyebaran lokal :
Tercatat sebagai pengembara di Sumatra dan Bali.

Kebiasaan :
Mendiami kawasan di pinggir hutan, terlihat berputar-putar atau meluncur rendah di atas pohon. Berburu di habitat terbuka dan hutan, sebagian besar mangsa ditangkap di permukaan tanah. Juga berburu dari tempat bertengger. Kadang berburu bersama pasangannya.


Makanan:
Burung berukuran kecil sampai sedang: merpati, gagak, unggas, dan keluarga burung passerine; mamalia: tikus, tupai, kelinci; kadal, dan serangga.

Perkembangbiakan:
Menerami telur bulan April-Mei. Bersarang di atas pohon atau di tebing. Telur biasanya 2 butir (1-3), dierami selama 37-40 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 50-54 hari.

Elang Gunung ( spizaetus alboniger)

Berukuran agak kecil (52 cm). Berwarna hitam dan putih. Jambul panjang, ekor bergaris lebar. Dada bercoret-coret memanjang, perut bergaris melintang rapat, nyaris hotam pada beberapa individu. Tenggorokan putih dengan strip hitam di tengahnya.
Bagian bawah bergaris tebal, terdapat satu garis putih lebar pada ekor yang hitam. Remaja: bagian atas coklat dan bersisik kuning tua, kepala berwarna pucat, bagian bawah kuning tua bergaris coklat, ekor bergaris-garis.
Iris kuning, paruh abu-abu, dan kaki kuning.

Suara :
Siulan nyaring mirip Elang Jawa.

Penyebaran global :
Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.

Penyebaran lokal :
Kemungkinan tersebar luas di Sumatra dan Kalimantan. Tidak umum di hutan primer, hutan tebangan, pinggir hutan, perbukitan, dan pegunungan dengan rentang ketinggian 300-1200 m.

 

Kebiasaan :
Beristirahat di pohon yang tinggi, kadang-kadang diserang Srigunting dan burung kecil lain. Terbang berputar di hutan saat berburu, menyerang mangsa di pepohonan.

Makanan:
Burung, ayam, mamalia, kadal, dan sesekali kelelawar.

 

Perkembangbiakan:
Satu sarang ditemukan sedang digunakan untuk mengerami telur pada bulan November, anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang bulan Februari. Di Sumatra, ditemukan satu sarang yang sedang digunakan untuk mengerami telur pada bulan Juli. Dalam satu sarang hanya ditemukan satu anakan. Sarang diletakkan pada tajuk bagian atas pohon besar.