Wednesday, March 27, 2013

Sejarah Singkat ProFauna

Sejarah Singkat ProFauna

http://www.profauna.org/images/content/rosek-made.jpg

Gudang Burung - ProFauna Indonesia adalah organisasi perlindungan satwa liar yang didirikan oleh Rosek Nursahid dan Made Astuti pada tahun 1994 di Kota Malang, Jawa Timur, Indonesia. Rosek dan Made adalah seorang biolog yang sejak muda gemar mengunjungi tempat-tempat yang menjadi habitat satwa liar. Pada awalnya ProFauna bernama KSBK, kemudian pada tahun 2002 berubah nama menjadi ProFauna.


Ide pendirian ProFauna muncul setelah pada tahun 1990-an Rosek mengunjungi beberapa pasar burung di Jakarta. Di pasar burung tersebut Rosek menemukan banyak satwa langka yang dijual bebas, seperti orangutan, siamang, kakatua, beruang madu, cendrawasih, dll. Padahal semestinya perdagangan satwa langka itu terlarang karena satwa-satwa tersebut telah dilindungi undang-undang.

Nasib buruk satwa yang diperdagangan di pasar burung itulah yang mendorong Rosek dan Made mendirikan ProFauna yang bekerja untuk membantu satwa liar Indonesia agar bebas dari perlakuan kejam dan perdagangan. Sejak itulah ProFauna aktif melakukan kampanye dan edukasi tentang pentingnya perlindungan satwa liar Indonesia.

Tuesday, March 26, 2013

The Biggest Bird

The Biggest Bird

 http://gallery.hd.org/_exhibits/natural-science/_more2003/_more09/ostrich-in-Addo-Park-Eastern-Cape-South-Africa-WL.jpg

Gudang Burung - Memang burung yang ada di dunia ini memiliki beberapa ukuran, dari yang besar sampai yang kecil/ Begitu pula dengan burung terbang. Terdapat pula yang masuk ke dalam burung terbang ukuran kecil hingga ukuran yang sangat besar/ Ingin tahu burung yang paling besar dan burung terbang paling besar di muka bumi ini?



Burung terbesar
Golongan burung terbesar adalah burung unta (Struthio camelus). Tinggi hewan ini mencapai 2,8 meter dan beratnya mencapai 156 kg. Berat telur hewan ini saja mencapai 1,4 kg. Hewan ini juga bisa berlari cepat, hingga kecepatan 97,5 kilometer per .jam.

Burung terbang terbesar
http://www.naturephoto-cz.com/photos/auer/dalmatian-pelican-xxx2z8h6829mw.jpg
Untuk burung terbang, jenis yang terbesar adalah pelikan Dalmatian. Hewan ini bisa setinggi manusia, 160 cm-180 cm, sementara beratnya hingga 11 kg-15 kg.

Akan Kembali Dihidupkan

Akan Kembali Dihidupkan

 The Dodo evolved without any natural predators, but it was forced into extinction by humans who killed them all for food

Gudang Burung - Konferensi TEDx yang berlangsung di Washington DC, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu mengungkap ide gila para ilmuwan. Mereka memaparkan gagasan untuk kembali menghidupkan hewan-hewan yang telah punah.

Total, ada 24 hewan yang akan dibangkitkan dari kepunahannya. Beberapa di antaranya adalah burung dodo dan zebra polos yang pernah hidup di Afrika Selatan. Laporan ilmiwah menyatakan, individu zebra polos liar ditembak terakhir tahun 1870 dan terakhir ditangkarkan mati pada tahun 1183.

 

Jenis hewan yang akan dihidupkan kembali dipilih berdasarkan beberapa kriteria. Salah satu kriterianya adalah peran yang bisa diberikan fauna itu dalam ekologi manusia saat ini atau apakah mereka cukup dicintai oleh manusia.
Ilmuwan juga mempertimbangkan alasan kepraktisan. Misalnya, apakah cukup mudah bagi ilmuwan untuk mendapatkan sampel DNA yang baik untuk mereproduksi hewan itu, juga kemungkinan untuk mengintroduksi kembali ke lingkungan.

Langkah pertama untuk menghidupkan hewan yang telah punah adalah mengambil DNA lebih dulu. Lalu, ilmuwan akan memasukkan genom ke dalam sel embrionik yang materi genetiknya telah dikeluarkan. Terakhir ialah dengan mengimplantasikan embrio ke induk hewan dengan kekerabatan terdekat.-kompas

ProFauna

ProFauna

 http://www.profauna.org/images/logo/logo-profauna-min.gif

Gudang Burung - ProFauna Indonesia sebelumnya bernama KSBK (Konservasi Satwa Bagi Kehidupan) adalah lembaga independen non profit berjaringan internasional yang bergerak dibidang perlindungan satwa liar dan hutan. Kegiatan ProFauna bersifat non politis dan non kekerasan. 


ProFauna didirikan pada tahun 1994 di kota Malang, Jawa Timur Indonesia. Kegiatan utama ProFauna adalah kampanye, pendidikan, investigasi dan penyelamatan satwa.


Pendirian ProFauna dilatarbelakangi fakta bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki kekayaan satwa liar tertinggi di dunia, namun sayangnya Indonesia juga memiliki daftar terpanjang tentang satwa liar yang terancam punah. Kerusakan habitat dan eksploitasi berlebihan menjadi penyebab utama terancam punahnya satwa liar Indonesia. 

Kondisi ini semakin diperburuk dengan masih lemahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian satwa liar dan habitatnya. Jika hal itu dibiarkan terus berlangsung maka akan semakin banyak jenis satwa liar yang akan benar-benar punah dari alam. 

Kepunahan satwa liar ini akan memicu kerusakan alam lainnya, yang pada akhirnya akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia. Di Indonesia juga banyak praktek kegiatan kekejaman terhadap satwa atau kegiatan eksploitasi satwa yang mengatasnamakan konservasi. Untuk itu ProFauna ada untuk melindungi satwa liar dan hutan Indonesia!

ProFauna sejak awal pendiriannya terus bekerja untuk menangani masalah perdagangan satwa liar dan bentuk eksploitasi satwa lainnya. ProFauna secara konsisten bekerja dibidang ini. 

ProFauna memandang pelestarian satwa liar adalah sebagai pintu masuk untuk melestarikan alam secara umum, yang pada akhirnya akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia.

Lomba Burung Puyuh

Lomba Burung Puyuh

http://jenisburung.com/wp-content/uploads/2013/01/burung-puyuh.jpg

Gudang Burung - Jika selama ini burung puyuh di ternak untuk di ambil telurnya, namun di Pamekasan Madura, burung puyuh justru diadu berkicau. Lomba burung puyuh selain digemari anak-anak, juga di gemari orang dewasa. Seperti apa suara kicauan buruh puyuh berikut informasinya.


Para pemilik burung puyuh peserta lomba ini sibuk memancing jagoan mereka untuk unjuk suara. Bentuk badan sang burung yang mungil mirip anak ayam, serta suaranya yang khas, membuat puluhan warga di kampung Duko Timur, Kecamatan Pakong, kini mulai menggemarinya.

Sehingga jangan heran, kalau di desa ini sering digelar lomba burung puyuh untuk diadu suaranya. Penggemarnya pun beragam, dari tua hingga muda. Bahkan juri dalam lomba seringkali melibatkan anak-anak setempat. Dengan menggunakan sejumlah kaleng plastik dan lidi, mereka bertugas menghitung jumlah suara yang dikeluarkan oleh burung puyuh.

Aturan mainnya, suara sang burung puyuh harus terdengar selama empat menit. Burung puyuh unggulan umumnya mampu mengeluarkan sekitar empat puluh hingga lima puluh bunyi per empat menitnya.

Menurut salah satu pemilik yang mengaku sudah lima kali jadi juara, yakni Badrus, tidak ada resep khusus untuk melatih kerajinan peliharaannya tersebut dalam berkicau.

Dengan adanya lomba burung puyuh ini, nilai ekonomis pun bertambah bagi sang burung yang kerap masuk final apalagi yang jadi juara. Kalau biasanya harga jualnya sekitar tiga ribu rupiah hingga enam ribu rupiah, maka dengan berbekal juara lomba, harganya bisa mencapai 250 ribu rupiah.-indosiar

Khas Bangka yang Semakin Punah

Khas Bangka yang Semakin Punah

 http://img.antaranews.com/new/2011/07/ori/20110704112151lombaburungberkicau030711-2.jpg

Gudang Burung - Burung khas di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel), terancam punah karena semakin maraknya aksi penangkapan burung di daerah itu.

 
"Populasi burung khas Bangka Selatan seperti murai batu, kacer, pentet, mandi darah betet dan burung berkicau lainnya semakin berkurang dan dikhawatirkan mengalami kepunahan," ujar Kabid Kehutanan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Selatan, Evan Sandy Maulana di Toboali, Sabtu.

Ia menjelaskan, semenjak populernya perlombaan burung berkicau di Babel, penangkapan burung liar mengalami peningkatan yang tinggi seiring nilai jual burung ini cukup tinggi, misalnya, harga burung murai batu yang belum terlatih mencapai Rp1,5 juta.

"Saat ini, sulit dan bahkan tidak ada lagi burung muari batu, kacer, pentet, betet dan burung berkicau lainnya di hutan karena burung yang ditangkap tidak dikembangbiakkan, warga hanya sekedar memelihara dan diperlombakan," ujarnya.

Ia mengatakan, burung ini mulai punah juga dipicu karena hutan yag semakin berkurang sebagai dampak penambangan bijih timah, perkebunan skala besar, dan penebangan hutan.

Selama 2012, seluas 80.332 hektare hutan produksi rusak parah dengan rincian 39.425 hektare sangat kritis dan 40.907 hektare kritis. Seluas 16.869 hektare hutan lindung kritis dengan tingkat kekritisan lahan 5.984 hektare hutan sangat kritis dan 10.885 hektare hutan kritis.

"Kami berupaya menyelamatkan populasi burung ini dengan mencegah berbagai aktivitas yang dapat mengancam kelestarian burung, terutama aktivitas penangkapan burung secara ilegal, jangan sampai burung khas daerah ini menjadi kenangan karena punah," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, demi meningkatkan kesadaran warga, kami menyosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian burung dengan harapan masyarakat, terutama yang berada di sekitar hutan ikut bertanggungjawab menjaga kelestarian burung itu.

Selain itu, kami harapkan warga yang memelihara burung untuk mengembangbiakkan burung peliharaannya agar populasi burung ini tidak terputus.

"Kami kesulitan untuk menyita burung-burung peliharaan warga yang hampir punah ini, karena bukan kewenangan kami untuk melakukan penyitaan, menyita burung yang hampir punah ini merupakan kewengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA)," ujarnya.

Menurut dia, penanganan pelestarian satwa ini membutuhkan suatu instansi khusus misalnya Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang selama ini belum ada di Babel.

"Aksi eksploitasi burung ini harus dihentikan, karena kalau dibiarkan maka burung yang ada di Pulau Bangka dan Belitung akan habis," ujarnya.-antaranews

Polisi Sita Buaya dan Kakatua

Polisi Sita Buaya dan Kakatua

 http://2.bp.blogspot.com/--EGa8_1G3CE/UTCBHgrTpVI/AAAAAAAASDA/DlaatdqjaNs/s1600/citrinocristata.jpg

Gudang Burung - Sejumlah satwa yang berada di kediaman salah seorang warga negara asing (WNA) asal Jepang, MT (47), disita Polda Bali, Jumat (22/3) sore. Beberapa di antara satwa yang dipelihara di vila yang terletak di Desa Perancak itu dilindungi. Seperti seekor buaya, burung merak, dua ekor burung kakaktua kepala kuning serta sebuah kerangka buaya.


Satwa yang dipelihara itu semuanya belum mengantongi izin. Dari informasi, penyitaan dipimpin oleh Kanit I Subdit Ditreskrimsus Polda Bali, Kompol Ketut Soma Adnyana. Burung kakaktua telah dibawa ke Polda, sedangkan burung merak, buaya hidup, dan kerangka buaya masih dititipkan di Perancak. Selanjutnya, buaya akan diambil pawangnya. Diduga tindakan ini melanggar UU No 5 tahun 1990 tentang KSDA.

Sementara itu, MT yang didampingi Pengawas Lapangan Kelompok Villa Pasti Agung Komang Sugiasa (Agung Alit) saat dimintai konfirmasi Sabtu (23/3) kemarin, mengatakan satwa-satwa peliharaan tersebut diperoleh dari seseorang yang menitipkan. Daripada tidak terurus, pihaknya membantu untuk memelihara buaya.

Begitu pula dengan burung dia pelihara dari warga setempat. Menurutnya, ia tidak pernah mencari melainkan ditawari ada yang datang minta tolong supaya dipelihara.

Untuk masalah izin, warga asing ini mengaku tidak tahu dan tidak mengerti. ''Jadi karena diminta memelihara, saya pelihara. Niat saya baik,'' jelasnya. Sementara itu, Agung Alit mengakui bahwa satwa-satwa itu telah disita oleh pihak kepolisian. Ada yang beberapa masih dititipkan namun pihaknya tidak tahu kapan akan diambil.