Sunday, October 1, 2006
BURUNG HANTU: berita dari lapangan 2
Benar. Beberapa waktu lalu, saya bertemu Kasman (salah satu anggota tim) yang sengaja datang membawa kabar ini.
"Bulan Agustus lalu, Kami telah berhasil menyelesaikan tahap pengambilan data di lapangan dan saat ini sedang dalam tahap pembuatan laporan", demikian tutur Kasman. Kami berjanji akan membagikan hasil selengkapnya setelah menyelesaikan pembuatan laporan nanti.
Namun Anda jangan kecewa dulu karena saya berhasil membujuk Kasman untuk memberikan sedikit bocoran kepada kita, berikut ini bocorannya.
Selama survey berlangsung, tim telah berhasil mencatat sebanyak 6 jenis burung hantu yang termasuk ke dalam 3 Family (Tytonidae, Strigidae, dan Caprimulgidae). Keenam jenis burung tersebut adalah:
1. Sulawesi Masked-owl Tyto rosenbergii
2. Cinnabar Hawk-owl Ninox ios
3. Speckled Boobook Ninox punctulata
4. Ochre-bellied Boobook Ninox ochracea
5. Sulaweso Scops owl Otus manadensisi
6. Great Eared Nightjar Eurostopodus macrotis
Dari keenam jenis burung hantu tersebut di atas, jenis N. ios merupakan jenis yang paling sering dijumpai dengan total perjumpaan sebanyak 87 kali. Sedangkan jenis yang paling jarang dijumpai adalah E. macrotis dengan total perjumpaan hanya 4 kali saja.
Lebih jauh lagi, bagaimana sebarannya berdasarkan lokasi, habitat dan ketinggian, serta bagaimana penggunaan habitat khusus diantara jenis-jenis yang termasuk didalam marga Ninox? sepertinya untuk informasi yang satu ini kita harus menunggu hingga laporan akhirnya selesai dikerjakan.
Monday, September 18, 2006
Mengamati Burung di Tambun
Di Sulawesi Utara (dan Gorontalo), terdapat beberapa lokasi yang menarik untuk mengamati burung. Beberapa diantaranya yang sudah terkenal adalah Cagar Alam Tangkoko-Duasudara, Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, hutan lindung Sahendaruman di Pulau Sangihe, Suaka Margasatwa Karakelang di Pulau Talaud, dan yang belakang ini mulai banyak dikunjungi adalah Cagar Alam Gunung Ambang. Masing-masing lokasi memiliki kekhasan tersendiri. Misalnya, Tangkoko yang merupakan "surga" bagi Raja Udang dan Hornbill (Burung Rangkong), Bogani yang lebih di kenal dengan Maleo-nya, dan apabila anda tertarik untuk berburu burung hantu (khususnya Cinanbar Hawk-owl Ninox ios), maka di Gunung Ambanglah tempat terbaik. Demikian pula dengan Pulau Sangihe dan Pulau Talaud, masing-masing pulau tersebut memiliki jenis-jenis burung yang tidak akan kita jumpai di tempat lain dimanapun di dunia ini. Artinya jenis-jenis tersebut hanya bisa dijumpai di kedua pulau tersbut, atau para ilmuan mengistilahkannya dengan Endemik.Khusus di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, terdapat beberapa lokasi yang sudah biasa dikunjungi oleh para pengamat burung, diantaranya adalah Toraut, Tambun dan Tapakolintang. Bahkan saat ini, beberapa tour burung dari Mancanegara telah menjadikan tempat ini sebagai target yang "wajib" mereka kunjungi. Ya memang benar, Bagi para pengamat burung ketiga lokasi ini memang sudah tidak asing lagi, terutama Tambun. Tambun adalah tempat terbaik untuk melihat burung Maleo Macrocephalon maleo. Salah satu jenis burung endemik Sulawesi yang keberadaannya sudah terancam punah.
Tambun adalah tempat yang baik untuk mengamati maleo, karena di tempat inilah terdapat lokasi peneluran maleo atau yang biasa dikenal dengan nesting ground. Untuk mencapai Desa Tambun (atau resminya Desa Pinonobatuan), kita harus menempuh perjalalan selama kurang lebih 5 jam dari Kota Manado dengan mengendarai mobil. Di kompleks nesting ground terdapat sebuah Pos Jaga milik Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dan di tempat seluas kira-kira 2,6 ha inilah, satu oraganisasi internasional yang khusus bergerak dalam perlindungan satwa liar bernama WCS (Wildlife Conservation Society-Indonesia Program) sedang melakukan upaya pelestarian maleo.
Beruntung, Saya telah mengunjungi tempat ini dalam beberapa kali kesempatan. Dan dalam kesempatan kunjungan tersebut, saya berhasil membuat catatan jenis-jenis burung yang pernah saya jumpai di Tambun.
Sebenarnya, tidak hanya Maleo yang menarik untuk dilihat, karena di tempat yang cukup terbuka ini dan berbatasan langsung dengan hutan, kita berpeluang untuk me-record beberapa jenis burung endemik Sulawesi, seperti: Spilornis rufipectus dan Accipiter trinotatus (Keluarga Elang), ada Streptocita albicollis dan Scissirostrum dubium di kelompok Myna, pada kelompok Raja udang, kita bisa menjumpai Cyttura cyanotis dan Ceyx fallax, apalagi pada kelompok burung paruh bengkok, kita bisa menjumpai Loriculus exilis dan L. stigmatus serta Prioniturus platurus.
Pokoknya bagi Anda yang senang mengamati burung, sudah pasti tidak akan dikecewakan kalau bertandang ke Tambun. Perjalanan mengamati burung di Tambun akan semakin lengkap bila kita beruntung menyaksikan peristiwa yang sangat luarbiasa yaitu saat menyaksikan maleo bertelur. Asal tau saja, di dekat lubang peneluran maleo telah tersedia sebuah blind hut (persembunyian/pengintaian), sehingga kita dapat menyaksikan peristiwa yang luarbiasa itu dari dekat. Keberadaan pondok pengintaian ini juga akan menguntungkan bagi para pe hobi Photography, Anda bisa mengabadikan peristiwa itu dengan kamera kesayangan anda. (tapi perlu diingat alangkah lebih baik lagi bila Anda mempersiapkan kamera dengan lensa tele).
Thursday, August 31, 2006
"Menularkan" Virus mengamati burung
Jika kita mendengar ada orang yang ketularan virus, secara otomatis pikiran kita akan membayang hal-hal yang mengerikan (seperti contoh virus HIV atau virus Flu burung). hiiiii...amit-amit, jangan sampai deh...
Tapi virus yang ini lain.
Begitu diumumkan, orang-orang malah berbondong-bondong untuk ikut "ditularkan". Lha...koq gitu?
Iya, karena virus yang ini beda.
Begitu diumumkan, spontan saja para penggiat alam bebas, seperti: Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA), dan Keleompok Pencinta Alam yang ada di Gorontalo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk itu kegiatan Pelatihan Identifikasi Satwa yang di selenggarakan oleh Pusat Informasi Konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (PIK TNBNW) dan Dewan Mitra Pengelola Taman Nasional Nogani Nani Wartabone.
Mulai dari tanggal 10-12 Maret 2006 lalu, berlokasi di Tempat wisata permandian air panas Lombongo-Suwawa, Kab. Bone Bolango, Gorontalo, kegiatan pelatihan indentifikasi satwa mulai dilaksanakan. Kegiatan yang disupport sepenuhnya oleh Wildlife Conservation Society-Indonesia Program ini dimaksudkan untuk mempromosikan potensi dan keunikan satwa Sulawesi dan membina generasi muda yang mampu melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati pulau Sulawesi. Lebih dari pada itu, diharapkan para pencinta alam tidak hanya sekedar mendaki gunung, camping di alam bebas, tatapi ada nilai plus yang diperoleh dan dibawa pulang selama berkegiatan di alam bebas.
Karena keterbatasan yang ada, sehingga peserta dibatasi tidak lebih dari 25 orang. Semua peserta berasal dari berbagai organisasi kepecintalaman yang ada di Gorontalo, seperti: Mapala-Mapala di Universitas Negeri Gorontalo, Mapala Universitas Ikhsan Gorontalo dan beberapa Kelompok Pencinta Alam yang berada di Gorontalo.
Sesi pelatihan yang mendapat antusiasme lebih dari para peserta adalah Sesi Pengamatan Burung. Setelah mendapat pembekalan bagaimana mengamati burung yang baik dari para Tutor yang berpengalaman, para peserta yang telah di bagi ke dalam beberapa kelompok mulai menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh dan mulai berlomba membuat daftar burung sebanyak-bayaknya. Kepada kelompok yang telah berhasil membuat daftar burung terbanyak, oleh panitia diberikan reward berupa poster burung. Kepada seluruh peserta pula telah dibagikan sebuah buku petunjuk "Bagaimana Mengamati Burung"
SELAMAT MENGAMATI BURUNG TEMAN-TEMAN
TULARKAN VIRUS MENGAMATI BURUNG INI KEPADA TEMAN/KERABAT/KELUARGA TERDEKAT KALIAN
dan semoga akan muncul pengamat-pengamat burung handal dari Gorontalo
Wednesday, August 9, 2006
BURUNG HANTU: berita dari lapangan
Saat ini, beberapa teman dari PALS (Pelestarian Alam Liar Sulawesi) bekerja sama dengan mahasiswa UDK (Universitas Dumoga Kotamobagu) sedang melakukan studi lanjutan tentang burung hantu di kawasan Cagar Alam Gunung Ambang. Kali ini, yang menjadi target species adalah semua jenis burung yang termasuk dalam marga Ninox. Studi ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan ruang diantara semua jenis yang termasuk dalam marga Ninox. Termasuk didalamnya jenis endemic Sulawesi yang terancam punah, yaitu Ninox ios. Penelitian itu sendiri sudah berlangsung sejak 2 bulan yang lalu. Nah seperti apa hasil nanti? Kita tunggu saja berita perkembangan dari teman-teman di lapangan. Buat Uchu, Kasman dan Karman, SELAMAT BERJUANG, dan semoga saja kalian tidak akan ketemu "Hantu" beneran.
Si Cantik yang terabaikan

Siapa yang tak kenal dengan jenis burung yang satu ini. Di Sulawesi bagian Utara orang mengenalnya dengan nama Weris. Namun karena sudah banyak dikenal, orang malah mengabaikannya. Dari penampilannya secara keseluruhan memang Weris ini kurang begitu menarik, tapi setelah di diperhatikan lebih jelas,
ternyata Si Weris ini cantik juga. Mau bukti? Nih lihat fotonya...
Monday, July 31, 2006
Gaya tidur Pelanduk Sulawesi

Satu kejadian langka yang pernah saya alami dalam perjalanan mengamati burung yaitu melihat gaya tidur burung. Kesempatan yang langka ini berhasil saya abadikan masih dalam satu paket perjalanan survey kura-kura di daerah Gorontalo. Pada saat melakukan night survey di salah satu anak sungai di Desa Wonggarasi, Kecamatan Lemito, Pohuwato, secara tidak sengaja saya melihat sebuah benda bulat putih kecoklatan yang tampaknya seperti dijepit oleh ranting-ranting bambu. Maksud saya untuk mengarahkan head light (senter kepala) ke bagian atas kepala adalah untuk memastikan jangan-jangan ada ular yang sedang siaga menunggu mangsa. Namun setelah saya dekati ternyata benda bulat tersebut adalah burung yang sedang tidur. Dan setelah diperhatikan dengan seksama ternyata burung tersebut adalah Pelanduk Sulawesi (Trichastoma celebensis). Burung ini adalah jenis endemik untuk Sulawesi dan dikenal dengan nyanyian paginya yang merdu. Setelah berhasil memotretnya, kami pun pergi melanjutkan perjalanan. SELAMAT TIDUR. Bangunkan kami di pagi hari dengan nyanyianmu yang merdu.
Sarang Punai Gading (Treron vernans)
Secara tidak sengaja, pada saat melakukan survey kura-kura di daerah Gorontalo (tepatnya di Desa Maleo, Kecamatan Paguat, Pohuwato), kami menjupai sarang burung.Saat itu, tidak ada burung yang terlihat, hanyalah sebutir telur seukuran telur burung Puyuh (tanpa bercak). Sarang itu sendiri terbuat dari patahan-patahan ranting yang disusun secara acak diantara cabang pohon (nama pohon tidak diketahui). Tipe sarang menyerupai sarang-sarang burung dari keluarga Columbidae. Sementara pohon itu sendiri berada di antara tegakan pohon kelapa. Tinggi sarang kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah dan berjarak sekitar 50 meter dari pantai.Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membidikkan kamera (Canon Powershot A620)dan mengambil beberapa gambar. Salah satunya seperti yang Anda lihat saat ini.





