Thursday, August 31, 2006

"Menularkan" Virus mengamati burung

Jika kita mendengar ada orang yang ketularan virus, secara otomatis pikiran kita akan membayang hal-hal yang mengerikan (seperti contoh virus HIV atau virus Flu burung). hiiiii...amit-amit, jangan sampai deh...

Tapi virus yang ini lain.
Begitu diumumkan, orang-orang malah berbondong-bondong untuk ikut "ditularkan". Lha...koq gitu?
Iya, karena virus yang ini beda.
Begitu diumumkan, spontan saja para penggiat alam bebas, seperti: Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA), dan Keleompok Pencinta Alam yang ada di Gorontalo berlomba-lomba mendaftarkan diri untuk itu kegiatan Pelatihan Identifikasi Satwa yang di selenggarakan oleh Pusat Informasi Konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (PIK TNBNW) dan Dewan Mitra Pengelola Taman Nasional Nogani Nani Wartabone.

Mulai dari tanggal 10-12 Maret 2006 lalu, berlokasi di Tempat wisata permandian air panas Lombongo-Suwawa, Kab. Bone Bolango, Gorontalo, kegiatan pelatihan indentifikasi satwa mulai dilaksanakan. Kegiatan yang disupport sepenuhnya oleh Wildlife Conservation Society-Indonesia Program ini dimaksudkan untuk mempromosikan potensi dan keunikan satwa Sulawesi dan membina generasi muda yang mampu melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati pulau Sulawesi. Lebih dari pada itu, diharapkan para pencinta alam tidak hanya sekedar mendaki gunung, camping di alam bebas, tatapi ada nilai plus yang diperoleh dan dibawa pulang selama berkegiatan di alam bebas.

Karena keterbatasan yang ada, sehingga peserta dibatasi tidak lebih dari 25 orang. Semua peserta berasal dari berbagai organisasi kepecintalaman yang ada di Gorontalo, seperti: Mapala-Mapala di Universitas Negeri Gorontalo, Mapala Universitas Ikhsan Gorontalo dan beberapa Kelompok Pencinta Alam yang berada di Gorontalo.

Sesi pelatihan yang mendapat antusiasme lebih dari para peserta adalah Sesi Pengamatan Burung. Setelah mendapat pembekalan bagaimana mengamati burung yang baik dari para Tutor yang berpengalaman, para peserta yang telah di bagi ke dalam beberapa kelompok mulai menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh dan mulai berlomba membuat daftar burung sebanyak-bayaknya. Kepada kelompok yang telah berhasil membuat daftar burung terbanyak, oleh panitia diberikan reward berupa poster burung. Kepada seluruh peserta pula telah dibagikan sebuah buku petunjuk "Bagaimana Mengamati Burung"

SELAMAT MENGAMATI BURUNG TEMAN-TEMAN
TULARKAN VIRUS MENGAMATI BURUNG INI KEPADA TEMAN/KERABAT/KELUARGA TERDEKAT KALIAN

dan semoga akan muncul pengamat-pengamat burung handal dari Gorontalo



Wednesday, August 9, 2006

BURUNG HANTU: berita dari lapangan

Saat ini, beberapa teman dari PALS (Pelestarian Alam Liar Sulawesi) bekerja sama dengan mahasiswa UDK (Universitas Dumoga Kotamobagu) sedang melakukan studi lanjutan tentang burung hantu di kawasan Cagar Alam Gunung Ambang. Kali ini, yang menjadi target species adalah semua jenis burung yang termasuk dalam marga Ninox. Studi ini bertujuan untuk mempelajari pemanfaatan ruang diantara semua jenis yang termasuk dalam marga Ninox. Termasuk didalamnya jenis endemic Sulawesi yang terancam punah, yaitu Ninox ios. Penelitian itu sendiri sudah berlangsung sejak 2 bulan yang lalu. Nah seperti apa hasil nanti? Kita tunggu saja berita perkembangan dari teman-teman di lapangan. Buat Uchu, Kasman dan Karman, SELAMAT BERJUANG, dan semoga saja kalian tidak akan ketemu "Hantu" beneran.

Si Cantik yang terabaikan


Siapa yang tak kenal dengan jenis burung yang satu ini. Di Sulawesi bagian Utara orang mengenalnya dengan nama Weris. Namun karena sudah banyak dikenal, orang malah mengabaikannya. Dari penampilannya secara keseluruhan memang Weris ini kurang begitu menarik, tapi setelah di diperhatikan lebih jelas,
ternyata Si Weris ini cantik juga. Mau bukti? Nih lihat fotonya...

Monday, July 31, 2006

Gaya tidur Pelanduk Sulawesi


Satu kejadian langka yang pernah saya alami dalam perjalanan mengamati burung yaitu melihat gaya tidur burung. Kesempatan yang langka ini berhasil saya abadikan masih dalam satu paket perjalanan survey kura-kura di daerah Gorontalo. Pada saat melakukan night survey di salah satu anak sungai di Desa Wonggarasi, Kecamatan Lemito, Pohuwato, secara tidak sengaja saya melihat sebuah benda bulat putih kecoklatan yang tampaknya seperti dijepit oleh ranting-ranting bambu. Maksud saya untuk mengarahkan head light (senter kepala) ke bagian atas kepala adalah untuk memastikan jangan-jangan ada ular yang sedang siaga menunggu mangsa. Namun setelah saya dekati ternyata benda bulat tersebut adalah burung yang sedang tidur. Dan setelah diperhatikan dengan seksama ternyata burung tersebut adalah Pelanduk Sulawesi (Trichastoma celebensis). Burung ini adalah jenis endemik untuk Sulawesi dan dikenal dengan nyanyian paginya yang merdu. Setelah berhasil memotretnya, kami pun pergi melanjutkan perjalanan. SELAMAT TIDUR. Bangunkan kami di pagi hari dengan nyanyianmu yang merdu.

Sarang Punai Gading (Treron vernans)

Secara tidak sengaja, pada saat melakukan survey kura-kura di daerah Gorontalo (tepatnya di Desa Maleo, Kecamatan Paguat, Pohuwato), kami menjupai sarang burung.Saat itu, tidak ada burung yang terlihat, hanyalah sebutir telur seukuran telur burung Puyuh (tanpa bercak). Sarang itu sendiri terbuat dari patahan-patahan ranting yang disusun secara acak diantara cabang pohon (nama pohon tidak diketahui). Tipe sarang menyerupai sarang-sarang burung dari keluarga Columbidae. Sementara pohon itu sendiri berada di antara tegakan pohon kelapa. Tinggi sarang kurang lebih 1 meter dari permukaan tanah dan berjarak sekitar 50 meter dari pantai.
Tanpa pikir panjang, saya pun langsung membidikkan kamera (Canon Powershot A620)dan mengambil beberapa gambar. Salah satunya seperti yang Anda lihat saat ini.

Thursday, June 1, 2006

Mengintip Perilaku Bertelur Maleo

Konon, kabar yang tersebar luas di masyarakat - bahkan mungkin anda pun sudah mendengarnya - bahwa maleo pada saat setelah bertelur langsung 'semaput' . Hal ini kabarnya diakibatkan oleh telurnya yang 'luarbiasa' besar - bisa mencapai 5 kali lebih besar dari telur ayam kampung.

Namun bagaimana kejadian yang sebenarnya...?
Saya berkesempatan melihat hal yang unik ini dan pengalaman itu akan saya bagikan kepada anda.

Semoga sepenggal tulisan ini akan menambah wawasan anda tentang burung yang unik dan endemik Sulawesi (hanya dapat dijumpai di Sulawesi
Sejak bergabung dengan salah satu oraganisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak dibidang pelestarian satwa di Sulawesi, keinginan untuk membuktikan kebenaran cerita itu terus menghantui pikiran saya. Dan akhirnya kesempatan itupun tiba...
Saya bisa menyaksikan kejadian yang unik itu. Sungguh pengalaman yang LUARBIASA.

Di tempat pengintaian (yang hanya berukuran sekitar 1 x 1 m), saya duduk sendirian menanti kedatangan sang burung. Saya duduk disana sejak jam 5:30 wita. Dalam benak saya berpikir, bagaimana rupanya perilaku maleo saat bertelur? Benarkah semua cerita orang tentang kebiasaannya yang suka semaput setelah bertelur? hmmmm??? Dalam hati saya berdoa, "datanglah engkau burung maleo, tunjukkanlah kepadaku segala keunikanmu".).
Tak berapa lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara burung maleo. Dan makin lama suaranya makin mendekat ke lokasi peneluran (kami biasa menyebutnya nesting ground). Setelah kurang lebih setengah jam prosesi sahut menyahut antara maleo jantan dan maleo betina berlangsung, tiba-tiba terdengar kepakan sayap burung besar mendekat dan bertengger tepat dicabang pohon dekat tempat pengintaian. "Ini pasti maleo", batin saya. Beberapa saat kemudian terdengar suara burung maleo jantan dari atas pohon tadi. Barangkali sang jantan sedang memberikan sinyal ke burung betina bahwa dia sudah dilokasi dan sedang memeriksa keadaan. Suara kepakan sayap terdengar lagi, dan ternyat seekor burung maleo mendarat di depan tempat pengintaian. Jaraknya kira-kira 15 m.

Mohon anda bersabar dulu, karena kisahnya akan saya lanjutkan kemudian...

"Berburu" Burung Hantu

Pada suatu hari di bulan Oktober 2005, saya bersama beberapa teman yang 'gila' burung pergi menemani seorang rekan (dari Inggeris yang juga 'gila' burung) yang ingin melihat salah satu jenis burung hantu Endemik Sulawesi (artinya hanya bisa dijumpai di pulau Sulawesi). Burung ini relatif masih baru untuk dunia ilmu pengetahuan karena baru saja diperkenalkan sebagai jenis baru. Namanya ilmiahnya Ninox ios.
Saat ini, lokasi yang relative mudah untuk bisa melihat jenis burung ini adalah di Gunung Ambang, Kotamobagu, Sulawesi Utara. Sehingga tidak heran banyak para pengamat burung yang pergi ke Gunung Ambang hanya untuk melihat Ninox ios. Kami pun berangkat ke Gunung Ambang, mencoba keberuntungan untuk melihat burung yang cantik ini.

Beruntung kami telah dibekali dengan rekaman suara burung N. ios, sehingga begitu menjelang malam (sekitar pukul 18:00) rekaman suara tersebut kami mainkan. Dan benar saja... tidak lama kemudian, dari kejauhan diantara lebatnya hutan, kami mendengar balasannya. Rekaman suara terus kami mainkan hingga suara balasan tersebut terus mendekat (hingga jarak 7 meter).
Namun sayang, kami belum berhasil melihatnya karena rimbunnya pohon di belantara Ambang. Proses seperti ini terus kami lakukan selama kurang lebih 5 jam, tanpa berhasil melihat seekor burung pun. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang, kami tetap berusaha untuk terus memanggil N.ios.
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat diatas kepala dan berhasil diikuti dengan lampu senter. Dan setelah beberapa lampu senter diarahkan ke arah bayangan tersebut, ternyata...
itu adalah NINOX IOS.
Kami pun dengan sepuasnya terus memandangi N. ios, dan tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul 01:00 tengah malam.
Perjalanan kami mejadi tidak sia-sia.
Kami pulang dengan hati yang gembira.
Terima kasih Ninox ios, sampai jumpa di lain waktu.